Senin, 14 Maret 2011

mencari pola pembinaan mahasiswa STIT

POLA PEMBINAAN MAHASISWA DI STIT PEMLANG

Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Agama yang memfokuskan pada jurusan Pendidikan Agama Islam, maka Mahasiswa di STIT Pemalang tidaklah bisa disamakan dengan mahasiswa di Perguruan Tinggi lain karena input mahasiswa STIT sebagaian besar merupakan pekerja (baca: pendidik baik PNS maupun GTT) yang bila dilihat dari faktor usia sebagian juga sudah cukup tua rata-rata diatas 30 tahun.
Secara umum mahasiswa STIT dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) ;
1. Reguler
2. Transfer
3. Program Beasiswa Kualifikasi Guru
Oleh karena itu dalam penanganan pembinaan mahasiswa harus dilakukan langkah-langkah khusus sesuai kelompok mahasiswa tersebut. Kelompok reguler yang sebagian besar mahasiswanya berasal dari lulusan SLTA dan usia yang relatif masih muda tentu akan berbeda penanganannya dengan kelompok mahasiswa Transfer yang berasal dari lulusan Diploma dan dari sisi usia juga sudah cukup tua ditambah hampir semuanya merupakan guru baik PNS maupun yang masih GTT. Sementara untuk kelompok Program beasiswa kualifikasi Gru PAI pada sekolah sudah barang tentu lebih spesifik lagi perlakuannyakarna mereka merupakan guru PNS aktif yang sedang tugas belajar dengan latar belakang usia rata-rata di atas 40 tahun.
Kondisi demikian sebetulnya dapat menjadi positif jika para mahasiswa ini mendapat bimbingan dari berbagai pihak secara proporsional dan bertanggungjawab, strategis dan sesuai misi dan visi STIT. Artinya diperlukan pemikiran yang matang untuk menjadikan mahasiswa yang kompeten selama masa kuliahnya di STIT. Memang bukan persoalan yang semudah membalik telapak tangan untuk membuat sebuah konsep pembinaan mahasiswa di jaman sekarang yang sangat jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu atau jaman reformasi, pergerakan angkatan ‘70an apalagi angkatan ‘66.
Dari mana sebaiknya kita mulai menyiapkan konsep pemikiran itu? Tentu saja pendidikan keluarga sangat berpengaruh dalam mengisi dan menanamkan dasar-dasar pemikiran, sikap, perilaku bahkan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Sebagai seorang mahasiswa seyogyanya minimal tahu tentang etika keluarga dan etika sosial. Karena kampus adalah ibarat sebuah”rumah” keluarga besar atau sekaligus negara pemerintahan kecil. Angkatan mahasiswa dapat bisa disebut keluarga dengan wali akademik sebagai “bapak”nya, Kajur sebagai “lurah” dan sementara Puket III menjadi “Camat” dan Ketua “Bupati”nya. Jadi seharusnya pembinaan mahasiswa dapat dilakukan oleh personil sesuai struktur kewenangan secara bertahap. Para pejabat inilah yang mau tidak mau harus menjadi “Team Work” dan “Think Tank” untuk kepentingan penumbuhsuburan kompetensi mahasiswa.
Pendekatan yang dilakukan
Untuk melakukan pembinaan mahasiswa dengan kelompok yang berbeda tersebut perlu dilakukan dengan :
1. Peningkatan soft skill
Mahasiswa melalui pembinaan pada kegiatan akademis maupun nonakademis perlu dilakukan secara optimal di perguruan tinggi. Namun dalam kenyataannya, proses pembinaan dalam aspek soft skill ini berjalan kurang seimbang. Dimana, peningkatan soft skill baik dalam proses pembelajaran maupun dalam bentuk pembinaan organisasi kemahasiswaan dirasakan kurang mendapat perhatian yang seksama dari berbagai pihak. Untuk mengoptimalkan peningkatan soft skill mahasiswa ini, perlu dilakukan beberapa upaya nyata, di antaranya, adanya kebijakan yang melegalisasi pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan yang berbasis soft skill, penyususun program pengembangan soft skill secara sistematis, dan desiminasi soft skill dilakukan dengan sinergi yang melibatkan semua pihak.
Pola pembinaan dan pengembangan soft skill bagi mahasiswa di perguruan tinggi kami dilakukan secara terintegrasi antara kegiatan akademik dan nonakademik. Pada kegiatan akademik, muatan soft skill ini dibina dan dikembangkan dalam berbagai kegiatan, metode dan model pembelajaran. Sementara itu, dalam kegiatan nonakademik dilakukan pembinaan secara terprogram dalam bentuk legalisasi dan kebijakan perguruan tinggi. Kemampuan soft skill tersebut mencakup; kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan kognitif, kemampuan komunikasi, dan kemampuan interpersonal dan bekerjasama. Proses pembelajaran bukan hanya proses penyampaian ilmu pengetahuan saja, tapi yang lebih penting perlu ada upaya dari dosen untuk mengembangkan potensi mahasiswa, sehingga menjadi lulusan yang berkualitas dan cekatan. Dengan demikian, profil lulusan tidak hanya sosok yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks) dalam bentuk hard skill saja, tapi mesti dilengkapi dengan pengembangan sikap dan perilaku (soft skills) mahasiswa yang mampu menjawab kebutuhan pengguna jasa (stakeholders), dan memiliki kemampuan untuk menciptaan lapangan kerja (enterpreneurship).
Untuk menunjang dinamika kampus, melalui kegiatan kurikuler mahasiswa dilibatkan dalam organisasi intra universitet yaitu BEM dan DLM STIT berikut UKM-UKM-nya dengan lebih banyak melibatkan mahasiswa dari kelompok reguler. Sementara pola pembinaan bagi mahaiswa non reguler menggunakan strategi pelibatan mahasiswa ke dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sentral yang diselenggarakan oleh STIT melalui :
a. diskusi rutin 2 mingguan dengan “leading sektor” lembaga Pusat Studi Gender dan Anak (PGSA STIT)”
b. Penyelenggaran Studium General dengan nara sumber guru besar STIT Pemalang
c. Pembentukan Studi bagi berdasarkan wilayah kerja para mahasiswa berstatus PNS
2. Peningkatan hard skill
Pembelajaran aspek akademik berupa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sebagai hard skills ditempuh dengan meningkatkan sumder daya tenaga pengajar mengirimkan kuilah S2 maupun S3, maupun peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran berupa pengadaan LCD proyektor setiap ruang kuliah dan peningkatan manajemen berbasis IT. Hal ini dilakukan karena proses pembelajaran perlu dilakukan secara sinergis antara penguasaan hard skills dan soft skills.”Profil lulusan Sekolah Tinggi Tarbiyah kini tidak hanya menyiapkan seorang Guru Penidikan Agama Islam semata mealinkan guru PAI yang mampu mengarahkan dan membentuk anak didik mempunyai 4 (empat) kompetensi yaitu:
a. Aqidah, dimana ilmu kalam tidak diajarkan ke perdebatan pemikiran ilmu tapi lebih kepada penanaman aqidah atau tauhid.
• Dalam mata kuliah tidak lagi menyebutkan ilmu kalam tetapi tauhid
• Mata kuliah ilmu kalam lebih dititik beartkan kepada penanaman aqidah islamiyah kepada peserta didik.
b. Al qur’an ,
• Bagaimana cara denagn cepat dapat membaca Al Qur’an
• Ditujukan kepada mahasiswa atau guru agar fasih baca Al Qur’an dan dapat mengajarkan Al Qur’an dengan cepat dan tepat.
c. Menegakan Sholat,
• Kajian-kajian terhadap fiqih lebih ditekankan aqidah
• Lebih memperbanyak praktek sholat
d. Berakhlakul karimah
• Membentuk mahaiswa / guru mampu menjadi informal leader yang berani mempengaruhi lingkungan sekolah untuk paling tidak membuat peraturan atau tata tertib sekolah yang islami.
• Membuat buku penghubung dalam rangka menerapkan akhlakul karimah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar